Godaan makan daging

Bagaimana keadaannya sekarang?

Mac van Dinther menulis artikel ini pada tahun 2001. Ia melihat sedikit penurunan konsumsi daging di negara Barat dan "revolusi daging" di bagian dunia lainnya. Kedua ramalan itu menjadi kenyataan.

Makan daging pada tahun 2026

  • Dunia makan lebih banyak daging daripada yang diramalkan. Lembaga penelitian IFPRI memperkirakan produksi daging 313 juta ton pada tahun 2020. Pada tahun 2024 produksinya 379 juta ton, lebih banyak dari sebelumnya (FAO).
  • Pertumbuhan terutama di Asia, Afrika dan Amerika Latin. Di banyak negara Barat konsumsi daging per orang tetap atau sedikit menurun. Di seluruh dunia konsumsi daging terus naik.
  • Indonesia. Di Indonesia konsumsi daging per orang masih rendah (sekitar 15 kilogram per tahun), tetapi terus naik, terutama daging ayam. Lihat Daging di Indonesia.
  • Daging dan kesehatan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan daging olahan sebagai penyebab kanker dan daging merah sebagai kemungkinan penyebab kanker.

Baca juga tentang daging dan akibatnya dan tentang penyembelihan ritual dan Idul Adha.

Sumber: FAO; WHO/IARC (2015). Diperbarui Oktober 2026.

Artikel dari tahun 2001

Sejarah konsumsi daging manusia

Sudah pasti bahwa manusia pertama makan daging. Tanpa tahu akibat pilihannya jutaan tahun kemudian, manusia purba menancapkan giginya pada seekor kelinci sabana prasejarah. Sejak saat itu tangan manusia berlumuran darah.

Artikel di bawah ini diterbitkan dalam bentuk lebih luas pada 27 Maret 2001 di surat kabar Volkskrant.

Bagi pembaca Indonesia bagian relevan diterjemahkan oleh Ibu B. Gerbrandy.
Penulis Mac van Dinther.

Bukti ilmiah konsumsi daging purba

Kalangan terpelajar sudah lama diakui bahwa orang pertama makan daging, berkata paleontolog John de Vos dari museum Naturalis di Leiden. Tetapi dua tahun lalu juga dapat bukti ilmu yang kuat.

Para peneliti menemukan dalam sisa-sisa fosil Australopithecus africanus, pendahulu manusia, senyawa karbon yang berhubungan langsung dengan konsumsi daging. Dengan bukti itu semua cerita bahwa manusia purba hidup dari buah-buahan dan sayur-sayuran dihapuskan.

Makan daging adalah satu sikap alamiah dari manusia. Alat kerja yang pertama dari manusia adalah pisau untuk potong daging.

Itulah bukan sesuatu baru bagi De Vos. "Dari kera besar seperti simpanse kami tahu bahwa mereka juga sekali-sekali makan daging." Neanderthal, jenis manusia purba yang sudah punah, hampir hanya makan daging.

Evolusi dan adaptasi

Jenis Australopithecus yang makan daging bukan pilihan sendiri, tetapi lebih akibatnya dari proses evolusi. Tiga juta tahun yang lalu ada kekeringan di Afrika Timur, di mana tempat asalnya manusia primitif. Hutan tropis menjadi tanah kering.

Saat itu terjadi banyak hal sejajar, menjelaskan Bapak De Vos. Manusia berjalan tegak dan mulai makan daging. Di tanah kering manusia Australopithecus perlu jalan jauh untuk dapat makanan dan karena itu dia jalan tegak. Itulah makan energi lebih banyak dan itulah lebih gampang diambil dari makanan hewan daripada dari tumbuhan. Dan apa lagi di tanah kering makanan kurang dari hutan tropis. Jadi Australopithecus terpaksa begitu.

Dalam tahap evolusi manusia itu, otak juga berkembang pesat. Bagi beberapa ilmuwan itu alasan untuk menyatakan bahwa daging, sumber protein yang kaya, baik untuk perkembangan otak. Teori itu sampai hari ini tidak dibantah oleh Biro Penyuluhan Daging, tetapi menurut Bapak De Vos teori itu omong kosong.

Oleh karena jalan tegak tangan manusia lepas. Koordinasi tangan dilakukan oleh otak. Asumsi Bapak De Vos adalah bahwa dari proses itu mulai otak manusia berkembang. Kalau tidak begitu, singa seharusnya mempunyai otak super.

Kebiasaan manusia untuk makan daging juga mengubah gigi manusia. Rahang manusia menjadi semacam gunting dengan apa manusia bisa menggunting daging. Rahang manusia menjadi jenis rahang omnivora, menurut Bapak De Vos.

Domestikasi hewan

Manusia pertama mungkin suka daging tetapi juga sekali saja makan daging karena hanya bisa kalau dia dapat menangkap hewan, dan itulah jarang terjadi.

Itu baru berubah ketika manusia mulai mendomestikasi hewan, dimulai dengan domba delapan ribu tahun Sebelum Masehi. Sejak saat itu berkembang hubungan antara manusia dan hewan yang ditandai oleh kenyataan bahwa yang satu memakai dan memakan yang lain.

Ada daerah di bumi ini yang tidak bisa hidup tanpa makan daging, mengatakan Bapak Adel den Hartog, dosen kebiasaan pangan di Universitas Wageningen. Ingat saja tundra, daerah yang terlalu dingin. Di situ tidak tumbuh apa-apa. Sama seperti di Sahara dan Greenland (es saja).

Aspek budaya konsumsi daging

Tetapi yang menonjol walaupun tidak tergantung dari akibatnya apa saja semua bangsa dari bumi ini suka makan daging. Dan memang menyeluruh bangsa manusia begitu, mengatakan Bapak Den Hartog. Bukan di mana saja orang suka hewan yang sama tetapi di mana-mana manusia suka makan daging.

Itu juga masuk akal. Makanan pokok seperti kentang, nasi dan gandum terasa hambar. Daging punya rasa yang kuat dan aromatik. Daging menghidupkan hidangan; daging diinginkan dan didambakan.

Tetapi di saat yang sama daging tidak pernah di luar permasalahan.

Daging selalu berkaitan dengan peran ganda yang bermasalah, mengatakan Den Hartog. Di setiap budaya ada pemahaman bahwa manusia perlu mencurahkan darah untuk dapat daging. Manusia sadar sekali bahwa dia perlu membunuh untuk makan daging.

Daging dan agama

Dari segalanya dia makan daging paling berbeban dengan emosi. Daging adalah dosa. Menurut Kitab Kejadian dalam Alkitab, manusia mulai makan daging setelah jatuh ke dalam dosa. Pembunuhan Habel oleh Kain menjadi contoh pertamanya. Tidak ada pangan yang begitu berhubungan dengan tabu atau sesuatu yang terlarang.

Orang Muslim memanggil Allah waktu penyembelihan, orang Yunani mengorbankan daging kepada dewa-dewa. Orang Yahudi mempunyai undang-undang pangan khusus mengenai daging. Orang Hindu menghormati seekor sapi, orang Inggris tidak makan kuda, orang Islam tidak makan babi, orang Mongolia tidak suka burung dan orang benua Eropa baik tidak makan kucing maupun anjing.

Banyak tabu pangan memang punya dasar rasional. Bagi bangsa penunggang kuda, kuda adalah tabu untuk makan karena mereka perlu hewan itu. Hal yang sama terjadi dengan bangsa-bangsa gembala ternak sapi. Gembala selain itu menganggap rendah orang yang pelihara babi. Itulah alasannya penghinaan terhadap babi dari bangsa yang mengikuti beberapa agama pastoral, menurut Den Hartog.

Vegetarianisme

Sebagai cerminan dari kedosaan daging pangan vegetaris seringkali diberi khasiat unggul. Hal pertama yang dikeluarkan para pertapa dari kehidupan mereka adalah seks, minuman keras dan daging. Kaum Brahmana di India kurang lebih terpaksa berhenti makan daging karena secara moral mereka hampir dikalahkan oleh para pertapa.

Vegetarianisme berperan pada sekte-sekte Kristen abad pertengahan yang menganut "ajaran murni" dan memisahkan diri dari Roma. Para vegetarian Inggris yang pada tahun 1847 mendirikan Vegetarian Society menyatakan bahwa makan daging membangkitkan nafsu kebinatangan dan menyebabkan perilaku tidak bermoral.

Sejarah konsumsi daging di Eropa

Bukan rakyat biasa terlalu terpengaruh oleh itu. Kebanyakan sudah senang kalau mereka bisa makan daging. Cara makan dari pihak bangsa Romawi sangat diketahui sebagai makan terlalu banyak sampai muntah sama seperti juga makanan pesta orang abad-abad pertengahan. Zaman itu bangsawan makan berlebihan daging, burung macam-macam sedangkan rakyat biasa makan roti dan bubur.

Lama sekali ada keyakinan bahwa makan kurang atau sedikit daging menyebabkan kelemahan. Bapak Liebig yang menemukan sari daging menegaskan bahwa daya kerja yang hilang karena otot dipakai membutuhkan daging untuk pemulihan kembali.

Hanya orang yang kerja paling keras, mendapat daging yang paling sedikit. Daging adalah status, semacam bukti kekayaan. Baru di abad kedua puluh daging menjadi bagian dari seluruh rakyat di bagian Barat di dunia ini. Mulai awal abad dua puluh tetapi semakin banyak setelah perang dunia kedua di tahun-tahun lima puluhan.

Masyarakat kemakmuran memberi hampir semua orang satu mobil, satu televisi dan setiap hari daging dalam menu. Mimpi dari setiap tenaga kerja menjadi benar, mengatakan Bapak Den Hartog. Waktu satu orang politik yang terkenal katakanlah: "Apa yang baik bagi orang yang kaya adalah juga baik untuk anak dari orang miskin".

Baru di abad pertengahan mulai konsumsi daging di Eropa. Setelah wabah pes di abad empat belas yang membuat banyak korban bahkan ada semacam kelimpahan. Tersedia cukup banyak padang rumput bagi hewan dan sedikit manusia yang membutuhkan makan.

Tetapi sejak abad tujuh belas penduduknya bertumbuh terus dan itu menyebabkan harus menghemat terhadap konsumsi daging. Daging menjadi barang mewah bagi raja dan orang kaya. Manusia biasa makan daging asin, ikan asin dan kalau ada daging hanya sedikit saja. Hanya tenaga kerja dengan cukup gaji bisa beli daging, yang bisa dibaca dalam tulisan Friedrich Engels dari Inggris tahun 1844.

Dari zaman yang sama juga ada seruan agar rakyat makan lebih banyak daging. G. Mulder, salah satu ahli pangan pertama di Belanda, pada tahun 1847 menyebut "kurangnya daya tahan" para pekerja. Menurut Mulder, penyebabnya adalah mereka kurang makan daging.

Perkembangan modern

Cita-cita tercapai: daging mendemokratis: daging adalah murah, tersedia bagi semuanya dan tidak bersifat satu ciri khas lagi. Hampir sampai tidak bisa habis lagi. Tahun demi tahun konsumsi daging lebih banyak. Belum pernah dalam sejarah konsumsi daging lebih besar daripada sekarang itu.

Tetapi baru ini ada gerakan lawan. Jumlah orang yang tinggalkan konsumsi daging dan orang vegetarian bertambah dan konsumsi daging dikurangi. Tahun 2000 daging dikonsumsi 3 kilo lebih kurang daripada konsumsi 1996, tahun puncak konsumsi daging per orang penduduk Belanda.

Pada saat yang sama daging kehilangan klaimnya sebagai makanan sehat. Pernyataan bahwa daging itu sehat sudah dibantah secara ilmiah, kata Ibu S. de Waard dari perhimpunan vegetarian Belanda.

Implikasi kesehatan dan masa depan

Dua tahun yang lalu Universitas Oxford membandingkan kesehatan dari orang vegetaris dan orang yang makan daging. Orang vegetaris punya berat badan lebih baik, kurang kolesterol dan oleh karena itu kurang kemungkinan untuk jatuh sakit jantung dan pembuluh darah. Banyak daging tidak sehat.

Juga secara status keadaan daging berubah, katakan Den Hartog. Tempo dulu kurang makan daging adalah tanda kemiskinan. Sekarang ini tidak usah malu lagi karena tidak ada daging. Sebaliknya kelihatannya. Makan daging dalam jumlah besar mulai berkurang.

Tetapi untuk sementara perubahan itu hanya berlaku bagi negara-negara Barat, Bapak Den Hartog segera menambahkan. Karena kita berada di ambang "revolusi daging". Dunia Barat boleh jadi sudah kenyang daging, negara-negara berkembang baru mulai mengejar ketertinggalan dalam konsumsi daging.

Menurut IFPRI (International Food Policy Research Institute) dari Amerika Serikat kebutuhan daging dari negara sedang berkembang akan dua kali lipat dalam dua puluh tahun yang berikut. Tahun 1995 seluruh dunia 198 juta ton daging dikonsumsi, IFPRI meramalkan di tahun 2020 ditingkatkan sampai 313 juta ton. Hal itu akan menjadi penyebab yang besar terhadap lingkungan hidup manusia dan pemakaian tanah. Kalau manusia Australopithecus waktu tahu tentang soal itu dia mungkin tidak pernah pergi keluar hutan tropis.

Baca artikel kami dalam bahasa Anda

Sebagian besar artikel kami ditulis dalam bahasa Belanda. Artikel terpenting membahas hak-hak hewan, berdasarkan prinsip bahwa kebebasan adalah hak dasar bagi manusia dan hewan. Anda dapat membacanya dalam bahasa Anda sendiri melalui terjemahan otomatis Google Translate.

Hak-hak hewan: kebebasan sebagai hak dasar bagi manusia dan hewan (terjemahan otomatis).