Makan daging: dampaknya bagi hewan, lingkungan, iklim dan pangan dunia

Makan daging: fakta dan angka

Negara-negara miskinMakan daging tampaknya pilihan pribadi, tetapi berdampak bagi seluruh dunia: bagi hewan, alam, iklim dan orang-orang yang kelaparan. Di halaman ini kami merangkum fakta-fakta terpenting.

Daging di Indonesia

  • Orang Indonesia rata-rata makan sekitar 15 kilogram daging per tahun, sebagian besar daging ayam (sekitar 13 kilogram). Daging sapi hanya beberapa kilogram per orang. Angka ini jauh di bawah rata-rata dunia, tetapi terus naik.
  • Setiap tahun Indonesia mengimpor lebih dari setengah juta sapi hidup dari Australia. Pada tahun 2011 Australia menghentikan ekspor itu selama sekitar empat minggu setelah televisi Australia menayangkan bagaimana sapi-sapi itu dianiaya di rumah potong di Indonesia.
  • Tempe dan tahu adalah sumber protein nabati tradisional yang murah dan sehat. Kedelainya sebagian besar diimpor: sekitar 2,6 juta ton per tahun, hampir 90 persen dari Amerika Serikat.

Produksi daging membuang makanan

Di seluruh dunia lebih dari sepertiga semua biji-bijian diberikan kepada hewan: pada tahun 2024 sekitar 1.070 juta ton dari hampir 2.850 juta ton (FAO). Untuk menghasilkan 1 kilogram protein hewani diperlukan beberapa kilogram protein nabati. Dengan begitu, banyak sekali makanan hilang sebagai pakan ternak.

Penggunaan lahan

Peternakan menggunakan sekitar 77 persen dari semua lahan pertanian di dunia: padang rumput dan ladang untuk pakan. Namun peternakan hanya menyediakan 18 persen dari semua kalori dan 37 persen dari semua protein yang dimakan manusia (Poore dan Nemecek, 2018). Negara kaya juga memakai banyak lahan di negara lain untuk ternaknya, terutama untuk kedelai dari Brasil dan Argentina. Kedelai yang dimakan langsung sebagai tempe dan tahu jauh lebih hemat lahan daripada kedelai yang diberikan kepada ternak.

Produksi daging mencemari lingkungan

Pertanian menyebabkan lebih dari 80 persen dari semua emisi amonia di dunia, terutama dari kotoran ternak. Amonia jatuh ke alam sebagai nitrogen dan merusak hutan, padang semak dan perairan. Di negara dengan peternakan intensif seperti Belanda, hampir semua alam yang dilindungi menerima lebih banyak nitrogen daripada yang dapat ditanggungnya.

Daging juga membutuhkan banyak air. Menurut Water Footprint Network, 1 kilogram daging sapi rata-rata membutuhkan 15.400 liter air, 1 kilogram daging babi 6.000 liter dan 1 kilogram daging ayam 4.300 liter. Untuk 1 kilogram biji-bijian sekitar 1.600 liter.

Produksi daging memboroskan energi dan merusak iklim

Menurut FAO, peternakan di seluruh dunia bertanggung jawab atas sekitar 12 persen dari semua gas rumah kaca yang dilepaskan oleh manusia. Perkiraan sebelumnya adalah 14,5 persen (2013) dan 18 persen (2006).

Dalam pengubahan protein nabati menjadi protein hewani juga banyak zat gizi dan energi yang hilang. Seekor babi membutuhkan sekitar 3 kilogram pakan untuk 1 kilogram daging, seekor ayam sedikit lebih dari 1,5 kilogram; untuk sapi jauh lebih banyak.

Produksi daging merenggut nyawa

Setiap detik di dunia disembelih sekitar 2.400 ekor ayam, 47 ekor babi dan 10 ekor sapi: lebih dari 80 miliar hewan darat per tahun. Selain itu banyak ikan ditangkap dan dibudidayakan. Siapa yang tidak makan daging menyelamatkan nyawa ratusan hewan sepanjang hidupnya. Baca juga tentang penyembelihan ritual dan Idul Adha.

Kelaparan di dunia

Pada tahun 2024 sekitar 673 juta orang di dunia menderita kelaparan: 8,2 persen dari penduduk dunia (FAO, 2025). Kekurangan gizi berperan dalam sekitar 45 persen dari semua kematian anak di bawah lima tahun. Pada tahun 2024 meninggal 4,9 juta anak balita, jadi setiap hari sekitar 6.000 anak meninggal antara lain karena kekurangan gizi. Makanan di dunia cukup untuk semua orang. Lebih baik jika orang di negara kaya makan lebih sedikit daging dan makanan nabati dibagi dengan lebih adil.

Daging dan kesehatan

Daging dan produk susu tidak diperlukan untuk tetap sehat. Makan banyak daging bahkan tidak sehat. Pada tahun 2015 Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) dari Organisasi Kesehatan Dunia menyimpulkan bahwa daging olahan, seperti sosis dan ham, dapat menyebabkan kanker usus. Daging merah kemungkinan bersifat karsinogenik. Banyak negara kini menganjurkan makan lebih sedikit daging merah dan lebih banyak protein nabati seperti kacang-kacangan, tempe dan tahu. Di Indonesia, pedoman gizi seimbang Kementerian Kesehatan (Isi Piringku) menyebut tempe, tahu dan kacang-kacangan sebagai lauk pauk sumber protein, sama seperti daging, ikan dan telur.

Baca juga: Mengapa orang makan daging? Akankah mereka terus makan daging?; Lima kebebasan hewan: apa itu dan apa kata hukum; Ketika saya memahami apa artinya kebebasan bagi seekor hewan

Sumber: The Poultry Site, konsumsi ayam di Indonesia; OECD-FAO Agricultural Outlook; ABC News, ekspor sapi hidup; Animals Australia, Four Corners 2011; USDA, impor kedelai Indonesia; Our World in Data, hewan yang disembelih; FAO, Food Outlook November 2024; Our World in Data / Poore dan Nemecek (2018); PNAS (2022), amonia pertanian; Mekonnen dan Hoekstra, Water Footprint Network; FAO, Pathways towards lower emissions (2023); FAO, SOFI 2025; UNICEF, Levels and trends in child mortality 2025; Kementerian Kesehatan RI, Isi Piringku. Diperbarui Oktober 2026.

Baca artikel kami dalam bahasa Anda

Sebagian besar artikel kami ditulis dalam bahasa Belanda. Artikel terpenting membahas hak-hak hewan, berdasarkan prinsip bahwa kebebasan adalah hak dasar bagi manusia dan hewan. Anda dapat membacanya dalam bahasa Anda sendiri melalui terjemahan otomatis Google Translate.

Hak-hak hewan: kebebasan sebagai hak dasar bagi manusia dan hewan (terjemahan otomatis).