Apakah perlu menyembelih hewan tanpa membuatnya pingsan?
Orang Islam hanya makan daging halal yang disembelihkan secara ritual, agar darah mengalir keluar.
Penyembelihan biasa di Europa dibuat dengan satu topeng menembak.
Dengan Pemakaian topeng menembak ada peluru besi yang langsung ke dalam otak hewan dan itu sekaligus menlancurkan susunan urat syarat.
Bagian otak yang urus denyutan jantung tidak dikena.
Setiap hewan yang membiuskan begitu menderita dari titik itu luka otak yang parah tetapi belum sama sekali mati, apalagi hal itu sama sekali tidak diharapkan.
Karena kalau hewan dengan cara begitu memang mati tidak sempat dapat beradarah sampai darah habis karena jantung sudah mati.
Kalau sesudah diberi obat pembius nadi leher tidak dipotong langsung, hewan tersebut bisa hidup.
Hal penting menurut aturan Islam adalah bahwa pembisuan hewan dapat dibalikkan (reversibel)karena hewan tidak boleh mati sebelum dipotong.
Hewan juga harus lahiriah utuh. Ada beberapa imam yang dapat menerima pembiusan ada yang tidak setuju.
Pembiusan bisa lewat sentakan listrik, yang perlu cukup kuat.
Kadang itu tidak cukup sehingga hewan hanya setengah dibius.
Kalau setelah diberi sentakan listrik nadi leher tidak dipotong langsung hewan bisa kembali sadar lagi.Setiap tahun orang Islam merayakan akhir Hadj (ziarah ke Mekka).
Itulah hari yang dipakai untuk menyembelikan/mengorbankan satu atau lebih hewan.
Upacara pengorbanan menunjuk kepada ceritera Alkitab tentang Ibrahim(Abraham) dan Ismael.
Ibrahim tidak dapat anak dan Tuhan(Allah) berjanji se anak laki-laki yang di beri kepadanya.
Kemudian Tuhan diuji Ibrahim dengan perintah Tuhan untuk pembelihan anaknya Isak.
Sesaat Ibrahim mau mati anaknya, malaikat Gabriel katakan daripada mengorbankan anaknya dia boleh ambil seekor domba. |