Idul Adha dan penyembelihan ritual: ada alternatif yang ramah hewan

Apakah hewan perlu disembelih tanpa dipingsankan?

Umat Islam hanya makan daging hewan yang disembelih menurut aturan Islam (halal). Leher hewan dipotong dengan satu sayatan agar darahnya dapat mengalir keluar. Agama Yahudi juga mengenal penyembelihan ritual.

Jika hewan tidak dipingsankan lebih dulu, hewan itu sepenuhnya sadar ketika lehernya dipotong. Hewan baru kehilangan kesadaran ketika otaknya kekurangan oksigen. Pada domba dan kambing hal itu biasanya memakan waktu sampai sekitar dua puluh detik. Pada sapi bisa lebih dari dua menit. Karena itu banyak penderitaan dapat dicegah jika setiap hewan dipingsankan lebih dulu, juga pada penyembelihan ritual.

Penyembelihan ritual dombaPenyembelihan ritual domba di rumah potong hewan. Foto: Gerard Damoiseaux

Pemingsanan dan halal bisa berjalan bersama

Pada penyembelihan biasa, hewan dipingsankan lebih dulu. Sapi biasanya ditembak dengan alat pemingsan berbaut (captive bolt): sebuah baut baja merusak otak besar sehingga hewan langsung pingsan. Domba dan babi sering dipingsankan dengan listrik. Hewan itu belum mati. Jantungnya tetap berdetak dan memang itu tujuannya: dengan begitu darah hewan keluar dengan baik setelah lehernya dipotong.

Menurut aturan Islam, hewan harus masih hidup saat disembelih dan tidak cacat dari luar. Pemingsanan dengan kejutan listrik bersifat sementara: jika lehernya tidak dipotong sesudahnya, hewan itu sadar kembali. Karena itu banyak ulama menganggap pemingsanan seperti ini boleh. Ulama lain menolaknya. Arus listriknya memang harus cukup kuat, kalau tidak hewan hanya setengah pingsan.

Di Indonesia

Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam Fatwa No. 12 Tahun 2009 tentang Standar Sertifikasi Penyembelihan Halal menyatakan bahwa pemingsanan (stunning) sah, asalkan hanya menyebabkan hewan pingsan sementara, tidak menyebabkan kematian atau cedera permanen, dan dilakukan sebagai bentuk ihsan, bukan penyiksaan. Fatwa ini menjadi standar sertifikasi halal di Indonesia.

Praktik menunjukkan bahwa pemingsanan dan halal bisa berjalan bersama. Di Inggris dan Wales, 88 persen dari semua hewan yang disembelih secara halal pada tahun 2018 dipingsankan lebih dulu. Di Belanda, 68 persen hewan yang disembelih untuk Idul Adha pada tahun 2025 dipingsankan lebih dulu. Pada tahun 2023 angkanya masih 54 persen.

Idul Adha

Pada Idul Adha (dalam bahasa Turki Kurban Bayramı) umat Islam memperingati kisah Nabi Ibrahim (Abraham), yang juga terdapat dalam Alkitab. Allah menguji Ibrahim dengan memintanya mengorbankan putranya. Dalam tradisi Islam putra itu biasanya Ismail, dalam Alkitab Ishak. Ketika Ibrahim hendak taat, Allah menyelamatkan putranya. Sebagai gantinya dikorbankan seekor domba jantan. Hari raya ini bertepatan dengan ibadah haji ke Mekah. Semua umat Islam merayakannya, juga mereka yang tidak sedang berhaji.

Sebagai tanda syukur, umat Islam yang mampu berkurban seekor domba, kambing atau kadang-kadang sapi. Dagingnya biasanya dibagi tiga: untuk keluarga sendiri, untuk kerabat dan teman dan untuk orang miskin. Di Belanda, tempat Animal Freedom berada, 5 sampai 6 persen orang dewasa menyebut dirinya Muslim. Tidak semua dari mereka menyembelih hewan.

Aturan di Belanda

  • Penyembelihan tanpa pemingsanan hanya boleh dilakukan di rumah potong hewan yang mendapat izin dari Otoritas Keamanan Pangan Belanda (NVWA). Menyembelih hewan di rumah, di kebun atau di peternakan dilarang, juga pada Idul Adha.
  • Seorang dokter hewan NVWA mengawasi setiap penyembelihan ritual. Juru sembelih harus memiliki sertifikat kecakapan.
  • Sejak 1 Januari 2018 berlaku aturan 40 detik: jika hewan masih sadar 40 detik setelah lehernya dipotong, hewan itu harus segera dipingsankan.
  • Aturan ini tercantum dalam Undang-Undang Hewan Belanda (Wet dieren), Keputusan tentang Pemelihara Hewan, peraturan penyembelihan Eropa (1099/2009) dan perjanjian tahun 2012 tentang penyembelihan tanpa pemingsanan, yang dilengkapi pada tahun 2017.
  • Pada tahun 2011 Majelis Rendah Belanda menyetujui rancangan undang-undang Partai untuk Hewan yang melarang penyembelihan tanpa pemingsanan. Pada tahun 2012 Senat menolaknya dengan alasan kebebasan beragama. Perjanjian tersebut menjadi penggantinya.
  • Pada tahun 2017 lebih dari 65.000 hewan disembelih untuk Idul Adha. Pada tahun 2025 jumlahnya tinggal sedikit di atas 24.000.

Bagaimana dengan negara Eropa lainnya?

Peraturan Eropa mewajibkan pemingsanan, tetapi negara-negara boleh membuat pengecualian untuk penyembelihan keagamaan. Semakin banyak negara tidak melakukannya.

  • Larangan penyembelihan tanpa pemingsanan: Swedia, Denmark, Slovenia, Flandria dan Wallonia (sejak 2019). Di luar Uni Eropa: Norwegia, Swiss dan Islandia.
  • Wajib pemingsanan langsung setelah leher dipotong: Austria, Estonia, Latvia dan Yunani. Di Finlandia pemotongan dan pemingsanan harus dilakukan bersamaan.
  • Di Wilayah Brussel, parlemen menolak larangan pada tahun 2022.

Mahkamah Uni Eropa (2020) dan Mahkamah Hak Asasi Manusia Eropa (2024) memutuskan bahwa larangan seperti itu diperbolehkan: kesejahteraan hewan boleh membatasi kebebasan beragama.

Ada alternatif

Semakin banyak Muslim di Belanda tidak lagi menyembelih hewan untuk Idul Adha. Banyak yang memberikan uangnya kepada lembaga kemanusiaan, yang atas nama mereka menyembelih hewan di negara miskin dan membagikan dagingnya kepada orang yang tidak mampu membeli daging. Badan Kontak Muslim dan Pemerintah di Belanda (CMO) melihat jumlah donasi bertambah setiap tahun. Sebagian Muslim memilih hidangan hari raya tanpa daging. Antara 2017 dan 2025 jumlah hewan yang disembelih di Belanda untuk Idul Adha turun hampir dua pertiga.

Para ulama berbeda pendapat tentang apakah kurban itu wajib. Mazhab Hanafi, yang diikuti sebagian besar Muslim Turki, menganggapnya wajib bagi yang mampu. Mazhab Maliki (diikuti sebagian besar Muslim Maroko) dan Mazhab Syafi'i (diikuti sebagian besar Muslim Indonesia) menganggapnya sunnah muakkadah (sangat dianjurkan). Dalam semua hal intinya adalah rasa syukur dan berbagi dengan mereka yang kekurangan.

Donasi menyelamatkan seekor hewan di Belanda dari kematian yang menakutkan, tetapi di tempat lain biasanya tetap ada hewan yang disembelih. Alternatif yang benar-benar ramah hewan adalah memberikan uang atau makanan tanpa ada hewan yang mati karenanya. Bagi yang tetap ingin menyembelih secara ritual, sebaiknya memilih hewan yang dipingsankan lebih dulu. Alangkah baiknya jika semakin banyak orang memilih bentuk syukur tanpa mengorbankan hewan. Itu mengurangi penderitaan hewan. Akan baik juga jika pemerintah semakin mengurangi penderitaan hewan saat penyembelihan. Flandria, Wallonia dan Denmark menunjukkan bahwa pemingsanan wajib itu mungkin.

Rasa syukur yang sejati tidak memerlukan penderitaan hewan.

Baca juga: Makan daging: dampaknya bagi hewan, lingkungan, iklim dan pangan dunia; Lima kebebasan hewan: apa itu dan apa kata hukum; Mengapa orang makan daging? Akankah mereka terus makan daging?

Sumber: NVWA, Persyaratan rumah potong untuk penyembelihan ritual tanpa pemingsanan dan Idul Adha (bahasa Belanda); angka NVWA dalam Reformatorisch Dagblad (27 Mei 2026); EFSA, Welfare of cattle at slaughter (2020); Temple Grandin; Food Standards Agency, Slaughter method survey 2018; Library of Congress, Legal Restrictions on Religious Slaughter in Europe (2018); LPPOM MUI, Fatwa MUI No. 12 Tahun 2009; VRT (13 Februari 2024); NOS (9 Juli 2022); CBS. Diperbarui Oktober 2026.

Baca artikel kami dalam bahasa Anda

Sebagian besar artikel kami ditulis dalam bahasa Belanda. Artikel terpenting membahas hak-hak hewan, berdasarkan prinsip bahwa kebebasan adalah hak dasar bagi manusia dan hewan. Anda dapat membacanya dalam bahasa Anda sendiri melalui terjemahan otomatis Google Translate.

Hak-hak hewan: kebebasan sebagai hak dasar bagi manusia dan hewan (terjemahan otomatis).